Tutup
ads 1280x400 pewarta network banner display
Kesehatan

4 Bahaya Kretek Punggung Bila Dilakukan Terlalu Sering

40
×

4 Bahaya Kretek Punggung Bila Dilakukan Terlalu Sering

Sebarkan artikel ini
Terapi Kesehatan Pijat Kretek
Ilustrasi Terapi Kesehatan Pijat Kretek (Sumber: health.grid.id)

KalimantanKini.Com, Kesehatan – Kretek punggung, suatu fenomena yang menarik dan kontroversial, telah menarik perhatian para ahli seiring dengan munculnya teori-teori yang beragam tentang asal usul suara “krek” yang dihasilkannya.

Bagi sebagian, itu adalah akibat dari gas yang terperangkap di persendian, sementara bagi yang lain, mungkin memiliki penjelasan yang berbeda.

Namun, di balik sensasi nyaman dan pelepasan endorfin yang dihasilkan oleh kretek punggung, terselip potensi bahaya yang perlu diperhatikan. Ayo kita telusuri bersama apa saja risiko dan konsekuensi dari kebiasaan yang satu ini.

Merusak Pembuluh Darah 

Kretek punggung, yang pada awalnya terdengar sebagai aktivitas yang memberikan sensasi nyaman dan mungkin diiringi oleh pelepasan endorfin, kini menjadi sorotan utama bagi para peneliti karena potensi risiko yang terkait dengannya.

Salah satu risiko utama yang terungkap adalah dampaknya pada pembuluh darah di sekitar punggung.

Menurut informasi yang diambil dari laman AICA, kretek punggung yang dilakukan dengan intensitas yang berlebihan atau dengan cara yang tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah di sekitar area punggung.

Pembuluh darah ini memiliki hubungan langsung dengan aliran darah ke otak, dan kerusakan pada area ini memiliki potensi untuk mengakibatkan konsekuensi yang serius.

Kerusakan pada pembuluh darah dapat menciptakan kondisi yang rentan terhadap pembekuan darah. Pembekuan darah tersebut, jika tidak diatasi dengan cepat, dapat memicu risiko stroke, aneurisme, atau bahkan cedera otak yang lainnya.

Implikasi dari gangguan pada aliran darah ini sangat serius dan dapat mengancam kehidupan seseorang.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk memahami bahwa praktik kretek punggung yang berlebihan atau tidak benar dapat memiliki dampak yang jauh lebih serius daripada yang mungkin kita bayangkan.

Bahaya bagi pembuluh darah di sekitar punggung haruslah menjadi perhatian utama bagi mereka yang terlibat dalam praktik ini, sebagai peringatan akan risiko kesehatan yang tidak dapat diabaikan.

Terbentuk Ruang Baru yang Terisi Gas

Studi ilmiah yang memfokuskan pada fenomena suara yang timbul dari sendi telah menjadi sumber diskusi yang menarik di kalangan para peneliti.

Salah satu penelitian peer-review yang patut disorot adalah kajian yang dilakukan dalam studi “Real-Time Visualization of Joint Cavitation” pada tahun 2015.

Penelitian ini menyoroti peran gas cairan sinovial dalam proses terjadinya retakan pada sendi dan mencoba menjelaskan momen spesifik ketika retakan tersebut terjadi.

Hasil dari penelitian tersebut membawa perspektif baru tentang momen terjadinya suara “krek” yang kerap terdengar ketika seseorang meregangkan sendi.

Melalui penggunaan teknologi MRI, pengamatan yang teliti memperlihatkan bahwa retakan pada sendi jari-jari terjadi bersamaan dengan munculnya rongga berisi gas.

Hal ini menyiratkan bahwa suara khas yang terdengar saat peregangan sendi sebenarnya berkaitan dengan terbentuknya rongga baru, bukan dengan ledakan gelembung udara seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Namun, penemuan ini menyuguhkan pandangan yang berbeda terkait mekanisme terjadinya suara “krek” yang sudah dikenal luas. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini memberikan wawasan lebih dalam tentang kompleksitas proses yang sebelumnya belum sepenuhnya dipahami.

Dengan teknologi yang semakin canggih, seperti MRI, kita semakin dekat untuk mengungkap misteri di balik fenomena ini.

Dalam bidang penelitian ini, perdebatan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sendi ketika terjadi suara “krek” masih terus berlangsung.

Namun, penelitian semacam ini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana suara ini terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya.

Hal ini juga memberikan landasan bagi upaya-upaya lebih lanjut untuk menjelajahi aspek-aspek lain dari fisiologi dan mekanisme sendi manusia yang masih belum terpecahkan secara menyeluruh.

Meningkatkan Resiko Stroke

Menurut laporan dari Medical News Today, praktik kretek punggung juga membawa risiko kecil terkait stroke. Hal ini disebabkan oleh manipulasi tulang belakang yang sering kali terfokus pada bagian leher, yang dapat menyebabkan robekan pada arteri leher dengan potensi bahaya yang signifikan.

Dalam terminologi medis, kondisi ini dikenal sebagai diseksi arteri serviks. Diseksi arteri serviks adalah salah satu penyebab umum terjadinya stroke. R

obekan pada arteri leher ini dapat mengganggu aliran darah ke otak, menyebabkan pembekuan darah, atau bahkan terjadinya sumbatan yang bisa mengakibatkan stroke iskemik atau hemoragik.

Pentingnya pemahaman akan risiko ini adalah untuk mengingatkan bahwa praktik kretek punggung, terutama pada bagian leher, dapat memiliki konsekuensi serius terhadap kesehatan, termasuk potensi terjadinya kondisi yang berisiko terhadap stroke.

Mengetahui risiko ini penting bagi mereka yang mempertimbangkan atau terlibat dalam praktik ini, agar dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan mempertimbangkan aspek kesehatan secara menyeluruh.

Merusak Sendi

Praktik kretek punggung dapat membawa risiko potensial terkait cedera pada saraf atau sendi. Meskipun kemungkinannya kecil, penggunaan tekanan yang berlebihan atau melakukan kretek punggung terlalu sering dapat meningkatkan risiko ini.

Menurut Healthline, kebiasaan yang berlebihan dalam melakukan kretek punggung dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada persendian.

Hal ini bisa menyebabkan kelelahan persendian yang berlebihan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan ketegangan, pembengkakan, dan bahkan kerusakan pada persendian itu sendiri. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa memicu kerusakan pada jaringan lunak yang mengelilingi sendi.

Walaupun risiko ini cenderung kecil, penting untuk diingat bahwa praktik kretek punggung yang berlebihan atau terlalu sering tidaklah bebas dari kemungkinan cedera pada saraf atau sendi.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa perlu ada pengawasan dan pemahaman yang tepat terhadap teknik dan frekuensi dari praktik ini untuk mengurangi potensi risiko cedera yang mungkin timbul.

Melemahkan Ligamen

Kretek punggung memiliki risiko yang berpotensi memengaruhi ligamen dan struktur tulang belakang. Salah satunya adalah potensi menyebabkan cakram tergelincir atau mengganggu cakram yang sudah ada, baik dengan mengiritasi maupun memindahkannya ke posisi yang tidak semestinya.

Penting untuk dicatat bahwa individu yang sudah mengalami cedera pada cakram atau tulang belakang perlu lebih berhati-hati dalam melakukan kretek punggung. Hal ini karena tindakan tersebut bisa memperburuk gejala yang sudah ada.

Ketika seseorang menggerakkan sendi melebihi rentang gerak normalnya, ligamen di sekitarnya meregang. Ini bisa mengakibatkan peregangan yang berlebihan pada ligamen, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perpanjangan atau keseleo ligamen tersebut.

Kondisi ini dapat menghasilkan ketidakstabilan pada sendi dan ligamen yang rusak, menyebabkan ketidakmampuan struktur tersebut untuk menopang dan mempertahankan sendi pada posisi yang benar.

Oleh karena itu, pemahaman akan risiko yang terkait dengan ligamen dan struktur tulang belakang penting untuk dipertimbangkan saat seseorang melakukan kretek punggung.

Kelebihan gerakan atau manipulasi yang berlebihan pada sendi bisa memiliki konsekuensi serius terhadap stabilitas sendi dan integritas struktur tulang belakang, khususnya bagi mereka yang telah mengalami cedera sebelumnya. (DW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!